Rabu, 07 Desember 2011

KISAH-KISAH KEKERAMATAN SAYYIDINA AL-FAQIH AL-MUQADDAM RA.

Berkata As-Syech Abdullah Al-Idrus didalam Kitab beliau;”Al-Mawahib Al-Quddusiyah”As-Syech Ibrahim Baharwaz As-Syibamy mengatakan :
”Di Syibam masih disimpan Kitab-kitab yang menceritakan kekeramatan Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ra yang berjumlah lebih kurang seratus Riwayat mengenai kekeramatan beliau”

Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam mempunyai Ahklak yang mulia, beliau dengan Ketawadhu’annya membawa sendiri ikan yang beliau beli dari pasar ke rumah beliau, beliau melazimkan Al-Khumul
Kekeramatan Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra sangatlah banyak beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Berzikirnya pohon-pohon dan batu-batu di Wadi An-Nua’ar
Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam telah melakukan Riyadhah dan Mujahadah yang sangat luar biasa, dan beliau telah ber-Uzlah di lembah An-Nu’air selama setahun beribadah siang dan malam, pada satu kesempatan anak beliau; As-Syech Ahmad mengikuti beliau ke Wadi An-Nu’air maka tatkala ia sampai di lembah tersebut dia melihat Al-Faqih Muqaddam sedang berzikir Jahr , dilihat oleh As-Syech Ahmad seluruh yang ada di lembah tersebut termasuk seluruh batu-batuan dan pohon-pohonan berzikir mengikuti Al-Faqih Muqaddam lalu pingsanlah anak beliau As-Syech Ahmad yang dikala itu masih muda kemudian ketika dia sadar ayah beliau; Sayyidina Al-Faqih Muqaddam memperingatinya agar jangan mengulangi mengikuti beliau ber-Uzlah di lembah tersebut.


Jalan masuk menuju tempat khalwat Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra di Wadi ‘An-Nu’air

Tempat Khalwat Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra

2. Suara dari langit

Sayyidina Al-Faqih Ra didalam Bidayahnya mendengarkan seruan dari langit;

“Wahai Faqih Muhammad bin Ali, tingalkanlah urusan-urusanmu yang bersifat Zhohiriyah, menhadaplah engkau keharibaan kami, kamipun akan menyampaikan dan menolongmu, sesungguhnya kami mempunyai keinginan pada dirimu dan bagimu dari kami ni’mat yang selalalu bertambah, lazimkanlah dirimu selalu ber-tafrid didalam Tauhid, dan ber-Tajrid di dalam Tafrid, kami akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan kami dan kami akan memberikan engkau keutamaan, maka jangan engkau jadikan keinginan kami tersamar dalam keinginanmu, dan jadikan kepada kami awal tujuanmu dan kembalimu, dan jangan engkau alihkan tujuanmu selain kepada kami sesungguhnya kami mempunyai hamba-hamba yang Khusus yang akan kami sampaikan hajat-hajat mereka darimu kepada kami”

3. Keadaan keluarga Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra sepeninggal beliau

Diriwayatkan bahwa As-Syech Al-Kabir Al-Arif billah Ta’ala Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Ibad Ra datang ke Tarim sesudah wafatnya Sayyidina Al-Faqih Ra untuk menengok anak-anak Sayyidina Al-Faqih Ra beserta isteri beliau “Ummul Fuqara’ ” Al-Hababah Zainab R.anha, tatkala As-Syech Abdullah telah bertemu dengan Al-Hababah Zainab beliau berkata;
”Bagaimana keadaan kalian sepeningal Sayyidina Al-Faqih Ra?”
Al-Hababah Zainab R.anha menjawab:
”Keadaan kami sepeningal Sayyidina Al-Faqih tidak ada bedanya dengan sebelum beliau (Sayyidina Al-Faqih Ra) wafat, sedangkan keadaan Alwi bersama ayahnya sama sebagaimana pada waktu masa hidupnya, Ilmu dan Rahasia langit bagi kami seperti kami melihat Bumi mendatangi kami pada waktu siang dan malam, sedangkan Alwi datang kepadanya berselang sehari atau dua hari”

Rumah Sayyidina Al-Faqih Ra

4. Air yang naik dengan perintah Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra

Sayyidina Al-Faqih Ra dalam usia remaja yaitu ketika beliau masih belajar disalah satu Majlis Ta’lim di Masjid Tarim, beliau tertidur pulas ketika telah masuk waktu sholat, padahal bilamana ada siswa yang meninggalkan sholat berjama’ah akan dihukum oleh gurunya, (demikianlah pengajaran ketat di Tarim pada waktu itu yang betujuan untuk mendidik para siswanya untuk mengikuti sunnah-sunnah Rasul Allah SAW) sampai akhirnya para siswa sudah bersiap-siap untuk sholat berjama’ah Sayyidina Al-Faqih Ra masih tertidur, ketika beliau bangun beliau mengisyaratkan dengan tangan beliau kesumur Masjid tiba-tiba air pun naik dengan seizin Allah SWT lalu Sayyidina Al-Faqih Ra berwudhu’ dan tidak ketinggalan sholat berjama’ah.




5. Pembantu Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra yang hilang

Diriwayatkan bahwa Sayyidina Al-Faqih mempunyai seorang pembantu yang bernama “Khuraishoh” Khuraishoh ini sudah lama pergi dan tidak tahu lagi khabarnya hidup atau mati, maka bertanyalah keluarganya kepada Sayyidina Al-Faqih, Sayyidina Al-Faqih Ra kemudian terdiam sejenak lalu beliau mengangkat kepalanya ke langit, kemudian Sayyidina Al-Faqih Ra menjawab;
”Abu Khuraishoh belum mati”
kemudian keluarga Abu Khuraishoh bertanya lagi;
”Bagaimanakah anda mengatakan Abu Khuraishoh belum mati padahal khabar kematiannya sudah menyebar?”, Sayyidina Al-Faqih Ra menjawab;
”Aku telah melihat ke setiap istana yang berada di Syurga, dan Abu Khuraishoh tidak ada disana”
keluarga Abu Khuraishoh bertanya lagi;
”Coba anda lihat di Neraka barangkali Abu Khuraishoh disana?”
Sayyidina Al-Faqih Ra marah lalu berkata;
”Sungguh tidak akan masuk neraka para pembantuku”.
Tak lama berselang Abu Khuraishoh pulang, dan tidak kekurangan sesuatu apapun.

6. Pertolongan dengan Al-Madad dan Barakah dari Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra

Diceritakan oleh A-Syech Muhammad bin Ali bin Al-Faqih Ahmad bin Abu Alwi R.anhum dari paman beliau A-Syech Muhammad bin Al-Faqih Ahmad Ra beliau bercerita;
”Aku bermusafir dari Zhofar hendak menuju Syihr dengan perbekalan yang kami angkut dengan onta, pada waktu kami telah sampai di Ghizoh yang banyak rusak jalannya, jatuhlah perbekalan kami berantakan diatas gunung, rombongan kamipun merasa cemas terhadap para penduduk Ghizoh, karena mereka seringkali bila ada rombongan Khafilah yang perbekalannya berantakan merekapun merampasnya sampai tidak ada lagi yang tersisa bagi pemiliknya.Para penduduk Ghizoh ketika melihat keadaan rombongan kami yang sedemikian rupa, merekapun berbondong-bondong menaiki kuda mereka, hendak menghampiri kami dengan bertujuan merampas harta benda kami.Ketika itu juga, aku beristighatsah kepada kakekku; Sayyidina Al-Faqih Ra belumlah sempat kuselesaikan Tawasulku, tiba-tiba rombongan kami terangkat diudara dan mendarat disatu lapangan yang agak jauh dari para penduduk seolah-olah ada yang membawa kami dan melemparkan kami, kamipun selamat dan merasa lega, para penduduk Ghizoh pun berlaku baik kepada kami, mereka malahan membanatu kami mengemasi barang-barang,mereka kami beri upah, salah satu dari mereka memberitahu kepada kami, tatkala rombongan kami terangkat di udara,ia berkata;”Ketika aku melihatmu sedang berdo’a dan bertawassul tadi, aku melihat seseorang yang berjubah dan bersorban putih yang terbang dan mengangkat dan memindahkan rombongan kalian dari gunung kelapangan”, aku lalu memberitahukan kepadanya; ”Sungguh aku bilamana sedang tertimpa kesusahan aku beristighatsah kepada kakekku Sayyidina Al-Faqih Ra dan dengan seizin Allah kesusahannku akan hilang pada saat itu juga”.sekali waktu aku baru sampai dari Habasyah dan aku membawa barang bawaan yang banyak, ketika aku sampai di kota Adn aku merasa bingung karena Amir Adn pada waktu itu suka merampas perbekalan orang asing yang melintas di Adn, lalu akupun bertawassul dan beristighatsah kepada kakekku Sayyidina Al-Faqih Ra, setelah itu akupunbaru turun dari kapal tatkala aku telah turun kedarat,tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berkta kepadaku;”Bawalah barang-barangmu dan berjalanlah dari arah sana”sambil menunjuk kesatu arah, lalu akupun berjalan diarah yang ia tunjukkan kepadaku,sampai akhirnya sampailah aku dijalan besar di Adn dan selama itu akupun tidak mendapati seseorangpun yang menghentikan perjalananku dan mengambil barang bawaanku sampai akhirnya selamatlah aku sampai ditujuan semuanya itu dengan Rahmat Alllah SWT dan barakah dari kakekku Sayyidina Al-Faqih Ra”

Diriwayatkan dari As-Syech Al-Arif Billah Alwi bin Ahmad bin Al-Faqih bin Abu Alwi R.anhum beliau berkata;
”Aku bermusafir dengan berombongan dari Hadhramaut salah seorang rombongan adalah As-Sayyid Muhammad bin Ali Al-Khatib R.a ke Yaman maka kamipun berlayar dengan kapal dari pelabuhan di kota Syihr, lalu kamipun berlayar, tapi ketika kami sampai ditengah laut, tiba-tiba ada badai yang menerpa kami yang membuat kapal kami hancur berkeping-keping, akupun berpegangan dengan sekeping kayu, dalam keadaan sedemikian rupa, aku beritighatsah dengan dengan kakekku, As-Syech Al-Faqih Muhammad bin Ali Ra,maka belumlah sempurna kalimatku tiba-tiba ada tali yang ujungnya tidak ada menjulur dari udara kearahku, akupun lalu berpegangan pada tali itu dan tali itu membawaku kedarat dengan selamat, tatkala aku sampai didarat akupun bertemu dengan As-Sayyid Muhammad bin Ali Al-Khatib yang sudah duluan sampai dan selamat kedarat, akupun berkata kepadanya;”Bagaimanakah keadaanmu?”, Ia menjawab;”Segala puji bagi Allah yang telah menggantikan segala musibah kita dengan keamanan”

Diriwayatkan dari As-Sayyid As-Sholeh Muhammad bin Ali bin Umar bin Abu Alwi Ra beliau bercerita;”Pada sekali waktu aku sedang berada di Adn, dan aku ingin melakukan perjalanan ke Hadhramaut dan tidak ada satu kemudahan bagiku untuk melakukan perjalanan ke hadhramaut dan tidak ada satu kapalpun di pelabuhan Adn yang bertujuan ke Syihr, keadaan yang sedemikian tersebut membuat pikiranku menjadi kalut, dan aku merasa takut akan membuat cemas keluargaku di Hadhramaut, pada malamnya aku beristighatsah dengan kakekku Sayyidina Al-Faqih Ra sampai akhirnya akupun tertidur akupun bermimpi bertemu dengan sepupuku seorang Wali yang besar yaitu As-Syech Muhammad bin Ali (namanya sama tapi bukan Sayyidina Al-Faqih Ra), yang ingin datang menolongiku maka aku berkata padanya, “Kenapa engkau datang aku tidak meinta bantuanmu aku meminta tolong kepada kakekku Sayyidina Al-Faqih Ra” didalam mimpiku aku melihat serombongan Ba’alawi yang sedang berkumpul, lalu turunlah kepada kami Sayyidina Al-Faqih Ra, beliau berkata;”Aku datang untuk menolongi orang yang meminta pertolonganku di Adn siapa orangnya?” akupun lalu menjawab;”Akulah orangnya wahai kakekku” kemudian akupun lalu terbangun, setelah aku Sholat Shubuh aku lalu pergi menuju ke Pelabuhan, menunggu pertolongan yang dijanjikan oleh Sayyidina Al-Faqih Ra, tak lama aku menunggu kudapati kapal yang baru datang, yang semuanya menuju ke Syihr yang dengan Qudrah-Nya dirapatkan kepelabuhan Adn maka akupun lalu bisa berlayar dengan Rahmat Allah SWT dan Barakah dari kakekku Sayyidina Al-Faqih Ra.”

7. Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra dan kebun kurma yang terbakar

Sayyidina Al-Faqih Ra mempunyai satu kebiasaan, yaitu beliau bilamana pada waktu pagi selalu berkata pada teman-teman beliau;
”Siapakah diantara kalian yang bermimpi semalam?”dan bilamana ada diantara teman-teman Sayyidina Al-Faqih yang bermimpi mereka akan menceritakannya pada Sayyidina Al-Faqih Ra.Pada satu ketika ada seseorang yang sebenarnya berhajat kepada Sayyidina Al-Faqih Ra ynag berkta kepada beliau berpura-pura ia bermimpi katanya;
”Sungguh aku telah bermimpi semalam, seolah Dunia telah kiamat dan seolah-olah ada yang menyeru;”Mana Junaid? Mana Fulan bin fulan ia menyebutkan beberapa Wali”, kemudian sipenyeru ini berseru lagi;”Dimanakah As-Syech Al-Faqih Al-Muqaddam?”ada yang menjawab; ”As-Syech Al-Faqih sedang asyik dengan kurmanya” karena itulah yang membuat Dunia menjadi Kiamat As-Syech Al-Faqih telah lupa mengurus perkara-perkara Allah SWT dan Makhluk—Nya”
maka tatkala Sayyidina Al-Faqih mendengarkan penuturan lelaki tersebut tiba-tiba Sayyidina Al-Fqih beteriak;
”Terbakarlah Kurma!”,
lalu terbakarlah kebun kurma Sayyidina Al-Faqih Ra, lalu berkatalah orang tersebut dengan nada menyesal; ”Sungguh aku telah berbohong agar engkau membagikan kepada kami Kurmamu”Sayyidina Al-Faqih menjawab, “Tidak ada kepentingan bagiku terhadap segala sesuatu yang menjauhkan aku kepada Tuhan-ku walaupun engkau berbohong”.

Tempat kurma Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra, semuanya berjumlah 300 buah yang digunakan untuk menampung kurma yang akan dibagikan kepada fakir miskin

8. Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra dan Nabi Allah Hud As

Diriwayatkan bahwa Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ra berkata;
”Sungguh sekali dalam satu tahun aku tidak berziarah kepada Nabi Allah Hud As, maka ketika aku sedang duduk disatu tempat yang atapnya tinggi tiba-tiba datang kepadaku Nabi Allah Hud As, yang menundukkan kepalanya ketika hendak masuk, tatkala ia telah dekat denganku beliau ia berkata;”Wahai Syech Al-Faqih bilamana engkau tidak berziarah kepada kami, maka kamilah yang akan berziarah kepadamu”aku bertanya kepada beliau;”Wahai Nabi Allah Hud As dari manakah anda tadi?”beliau menjawab;”Aku dari mendatangi anakku Hadun”.

Makam Nabi Allah Hud As

9. Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam dan Nabi Allah Khidir As

Berkata As-Syech Abdurrahman Al-Khatib Ra didalam kitabnya;”Al-Jauhar As-Syafaf”, dan beberapa para pemuka kaum Sufi meriwayatkan juga bahwa telah berkata As-Syech Abdurrahman bin Muhammad As-Segaff Ra;
”Pada satu ketika Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddan Muhammad bin Ali Ra sedang berkumpul bersama para sahabatnya maka datanglah kepada mereka Abu Al-Abbas Nabi Allah Al-Khidhir As dalam rupa seorang Badwi, dan diatas kepalanya membawa Zabid maka tatkala ia mendekati Majlis Sayyidina Al-Faqih Ra mengambil Zabid tersebut dari kepalanya,dan Zabid tersebut dimakan oleh Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra kemudian Nabi Allah Khidhir As pergi, para sahabat Sayyidina Al-Faqih Ra melihat kejadian ini, merasa heran dengan kelakuan Sayyidina Al-Faqih Ra, lalau merekapun bertanya kepada beliau;”Wahai Sayyidina Al-Faqih Ra siapakah orang Badwi tersebut?”Sayyidina Al-Faqih Ra memberitahukan kepada mereka;”Badwi tersebut sebenarnya adalah Abu Al-Abbas Nabi Allah Khidhir As.”

10. Hadirnya Sayyidina Al-Faqih dalam sholat Jenazah

Meriwayatkan As-Syech Sa’id bin Umar Lihaf dari anaknya, Muhammad bahwa beliau berkata; ”Tidaklah kami sholat atas jenazah seorang Muslim kecuali beliau (As-syech Al-FaqihRa), hadir dan ikut Sholat bersama kami padahal beliau telah wafat”, dan telah berkata As-Syech Abdullah bin Muhammad Abu Ibad Ra; ”Tidaklah kami Sholat atas jenazah, kecuali As-Syech Al-Faqih Ra hadir dan ikut sholat bersama kami” ,berkomentar As-Syech Abdurrahman Al-Khatib Ra, ”Sayyidina Al-Faqih Ra mendatangi jenazah mereka, karena Sayyidina Al-Faqih Ra menyayangi kaum Muslimin dan kedatangan beliau dikarenakan untuk memeberikan Syafa’ah Kewilayahan beliau kepada mereka, kalau mereka ditimpa oleh kesusahan, Sayyidina Al-Faqih Ra akan menolongi mereka karena Sayyidina Al-Faqih Ra berakhlak dengan Nama-nama Allah SWT dan dengan Akhlak Baginda rasul Allah SAW,dan telah berfirman Allah SWT kepada Nabi-Nya;”Tidaklah Aku utus engkau wahai Muhammad kecuali agar menjadi Rahmat bagi semesta alam”,seperti itulah keadaan para Nabi dan Awliya’ tidaklah Allah SWT mengutus para Nabi dan mengangkat para Wali, kecuali menjadikan mereka sebagai Rahmat bagi segenap Makhluk-Nya,diriwayatkan bahwa termaktub didalam beberapa Kitab Allah yang diturunkan kepada para Nabi yang terdahulu bahwa berfirman Allah SWT;”Aku adalah Tuhan yang penyayang dan aku tidak menyayangi orang yang yang tidak mempunyai sifat kasih sayang”

11. Mi’rajnya Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra

Murid Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra, yaitu As-Syech Sa’id bin Umar Lihaf selalu menyaksikan Sayyidina Al-Faqih Ra Mi’raj kelangit setiap malam, dan hal ini memang atas perintah Sayyidina Al-Faqih Ra, bilamana beliau melihat sesuatu, maka hal tersebut diberitahaukan kepada Sayyidina Al-Faqih Ra, pada satu ketika Sayyidina Al-Faqih Ra baru turun dari Mi’raj beliau As-Syech Sa’id melihat sesuatu yang berkilau berbentuk bulat melekat dibaju Sayyidina Al-Faqih Ra kemudian diambil oleh As-Syech Sa’id, kemudian diberitahukannya kepada Sayyidina Al-Faqih Ra, Sayyidina Al-Faqih tersenyum dan berkata;

“Wahai Lahif kami mendapatkan yang engkau pegang itu dari langit sedangkan engkau mengambilnya dari bajuku tanpa bersusah payah”

Dari As-Syech Al-Arif billah Fadl bin Abdullah Ra beliau berkata:
”Sesungguhnya onta Sayyidina Al-Faqih Ra mengetahui jalan dilangit sebagaimana jalan di Bumi”.



12. Marahnya Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra

Telah diriwayatkan bahwa As-Syech Muhammad bin Ustman As-Syamhuniy Az-Zhofary mendatangi anak-anak Sayyidina Al-Faqih Ra setelah Sayyidina Al-Faqih Ra wafat, maka beliau disambut oleh Al-Habib Alwi Al-Ghuyur dan Al-Habib Abdurrahman menjemput As-Syech Muhammad dari luar kota, tatakala mereka telah bertemu berziarahlah mereka bersama-sama ke makam para Wali dan beberapa orang Sholihin, kemudian Al-habib Abdurrahman berpesan kepada saudaranya yaitu;As-Syech Alwi Al-Ghuyur;
”Wahai Alwi aku hendak pulang terlebih dahulu kerumah mempersiapkan jamuan untuk As-Syech Muhammad, sedangkan engkau tunggulah disini temani As-Syech Muhammad”
Kemudian Al-Habib Abdurrahman pulang kerumahnya, dan Al-Habib Alwi menemani As-Syech Muhammad ,setelah Al-Habib Abdurrahman pulang datanglah As-Syech Ibrahim bin Yahya Abu Fadhal Ra, dia berkata kepada Al-Habib Alwi Al-Ghuyur Ra;
”Wahai Alwi aku ingin agar engkau bersedia untuk menyerahkan kepadaku untuk menjamu As-Syech Muhammad”
Al-Habib Alwi Al-Ghuyur mengizinkan As-Syech Ibrahim untuk membawa As-Syech Muhammad, kemudian pulanglah Al-Habib Alwi Al-Ghuyur, ketika Al-Habib Abdurrahman bertemu dengan Al-Habib Alwi sendirian tidak bersama As-Syech Muhmmad bertanyalah Al-Habib Abdurrahman kepada Al-Habib Alwi perihal As-Syech Muhammad, Al-Habib Alwi lalu memberitahukan bahwa As-Syech Muhammad dibawa oleh As-Syech Ibrahim, murkalah Al-Habib Abdurrahman, beliaupun langsung menemui As-Syech Muhammad setelah beliau bertemu dengan As-Syech Muhammad beliaupun menumpahkan segala kekesalannya kepada As-Syech Muhammad karena memenuhi undangan As-Syech Ibrahim dahulu, padahal beliau sudah mempersiapkan jamuan untuk As-Syech Muhammad dirumah beliau, As-Syech Muhammad mengahadapi kekesalan Al-Habib Abdurrahman dengan senyuman dan penuh ketawadhu’an, maka setelah Al-Habib Abdurrahman melihat keluhuran Akhlak As-Syech Muhammad beliaupun menyesali diri beliau yang terlalu mengikuti hawa nafsu, beliaupun pergi ke Masjid dan ber-I’tikaf dan beliau berniat tidak akan keluar dari Masjid sebelum As-Syech Muhammad memaafkan perlakuan beliau terhadap As-Syech Muhammad, tak lama kemudian As-Syech Muhammad mendatangi Al-Habib Abdurrahman dengan muka ketakutan, dan berkata kepada beliau;
”Wahai Abdurrahman urungkanlah niatmu untuk meminta maaf kepadaku, karena aku takut terhadap ayahmu (Sayyidina Al-Faqih) karena beliau tadi telah mendatangiku dalam keadaan marah kepadaku seperti singa dan ia berkata kepadaku;”Wahai Muhammad apakah engkau ingin menghinakan anakku dengan akhlakmu?”
Diriwayatkan bahwa As-Syech Barakwah pergi keTarim bermaksud mengajak penduduk Tarim kepada Mazhab Thariqah yang dianutnya, sesampainya di Tarim ia bermimpi didatangi oleh Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra, karena Imam Thariqah penduduk Tarim, adalah Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra.

13. Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra dan guru beliau As-Syech Ali Bamarwan Ra

Dalam cerita yang masyhur yaitu kejadian antara Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam dan guru Fiqh beliau As-Syech Ali Bamarwan dikisahkan, bahwa Sayyidina Al-Faqih Ra setelah menerima Khirqah dari As-Syech Abdullah As-Sholeh Al-Maghriby Ra, dijauhi oleh As-Syech Ali Bamarwan dengan maksud agar Sayyidina Al-Faqih menekuni kembali Dunia Fiqh karena As-Syech Ali Bamarwan menginginkan Sayyidina Al-Faqih menjadi Imam bagi para Faqih, sebagaimana yang dikatakannya kepada Sayyidina Al-Faqih;
”Aku menginginkanmu menjadi Imam kami (Ahli Fiqh) sebagaimana Ibnu Fuwraq, sedangkan engkau sekarang mengambil jalan Tasawwuf dan menjauhi kami”
As-Syech Ali Bamarwan tetap menjauhi Sayyidina Al-Faqih sampai akhir hayatnya tatkala As-Syech Ali Bamarwan sakit yang telah parah Sayyidina Al-Faqih Ra sedang berada di ‘Ajz yaitu satu daerah di pedalaman Hadhramaut, jaraknya dari Hadhramaut berkisar setengah hari perjalanan, segera menemui As-Syech Ali Bamarwan tetapi Sayyidina Al-Faqih Ra terlambat dan As-Syech Ali Bamarwan telah wafat dan telah dikebumikan, Sayyidina Al-Faqih lantas beri’tikaf di Masjid , tak lama setelah Sayyidina Al-Faqih Ra beri’tikaf, dengan seizin Allah As-Syech Ali Bamarwan yang telah dikebumikan hidup kembali dan menemui Sayyidina Al-Faqih Ra pada waktu Shubuh, mereka berduapun terlibat percakapan, Sayyidina Al-Faqih Ra bertanya kepada As-Syech Ali Bamarwan;
”Bagaimanakah aku disisi kalian Ahli kubur?”
As-Syech Ali Bamarwan menjawab;
”Kami semua (ahli barzakh) mengharapkan engkau menjadi Imam sebagaimana ahli Dunia memintamu menjadi Imam”
Tatkala mereka sedang bercakap-cakap, tiba-tiba datanglah Hamid (Mu’azzin di Masjid itu) yang hendak melakukan Azan Shubuh iapun menyaksikan kejadian luar biasa tersebut yaitu bertemunya As-Syech Ali Bamarwan yang sudah wafat dengan Sayyidina Al-Faqih Ra, Hamid meminta Do’a kepada mereka berdua, Hamid yang merasa tidak kuat untuk tidak bercerita kepada masyarakat luas meminta izin kepada Sayyidina Al-Faqih Ra agar ia dizinkan untuk memberitahukan kejadian tersebut kepada masyarakat, ia terus meminta izin sampai akhirnya Sayyidina Al-Faqih meminta Hamid agar tidak menceritakan hal tersebut kemasyarakat luas selagi Sayyidina Al-Faqih Ra masih hidup, dan Hamid pun mematuhi permintaan Sayyidina Al-Faqih Ra sehingga pada waktunya, yaitu setelah Sayyidina Al-Faqih Ra meninggal, Hamid yang tidak kuasa lagi menyimpan pengalaman luar biasa yang dia alami menceritakan kejadian tersebut ia berteriak dengan suara lantang kemasyarakat yang sedang menghadiri pemakaman Sayyidina Al-Faqih Ra.

14. Kejadian menjelang Akhir hayatnya Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra dan ramalan beliau

Di akhir hayat Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra,beliau mengalami Al-Waridat yang agung sehingga terbukalah bagi beliau rahasia-rahasia Al-Laduniyah dan Al-Wahbiyah, terbentang bagi beliau Asrar Ar-Rabb , sehingga menenggelamkan beliau dalam lautan Shibghah Ar-Rabbany, dan Allah SWT membukakan bagi beliau rahasia-rahasia Malakut dan Jabarut, diselimuti oleh An-Nur Al-Lataif, beliau hanyut dalam hal yang sedemikian rupa selama lebih kurang 100 hari, tidak makan makanan sesuappun dan tidak meminum air barang setegukpun, dalam keadaan beliau yang seperti itu ada seseorang yang berkata kepada beliau membacakan satu ayat;

“Setiap yang bernyawa pasti mati”
Dijawab oleh Sayyidina Al-Faqih;

“Aku tidak mempunyai nyawa(Nafs)”
Kemudian disebutkan lagi satu ayat Al-Qur’an kepada beliau;

“Setiap segala sesuatu itu Fana’”
Dijawab oleh beliau;

“Aku tidak mempunyai ke-Fana’an”
Kemudian disebutkan lagi kepada beliau;

“Segala sesuatu itu akan celaka kecuali zat-Nya”
Dijawab oleh beliau;

“Aku dari cahaya zat-Nya”

Dalam keadaan beliau yang sedemikian rupa beliau selalu menolak makanan yang disuapkan kepada beliau,sehingga pada suatu saat, tatkala makanan telah masuk keperut beliau, terdengarlah satu suara yang didengar oleh orang banyak;
”Kalau kalian semua telah merasa bosan terhadapnya (Sayyidina Al-Faqih) Kami akan menerimanya, kalau kalian meninggalkannya dari makanan dia akan tetap Kami hidupkan”
Didalam satu riwayat dikatakan ketika detik-detik terakhir hayat beliau tatkala beliau hendak disuapi, mata beliau terbuka, dan beliau berkata;
”Apakah kalian telah bosan terhadapku?”
lalu beliaupun wafat.
Sebelum Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra wafat, beliau sempat meramalkan beberapa kejadian yang akan terjadi, beberapa diantaranya adalah:
1. Terbakarnya kota Baghdad dan terbunuhnya Khalifah dikala itu disaat yang sama.
2. Akan terjadinya banjir di Hadhramaut, banjir ini benar-benar terjadi dan menelan korban jiwa sebanyak 400 orang banjir ini dikenal dengan nama “Jahisy”
3. Terjadi juga banjir, yang menimpa kota Baghdad, banjir ini terjadi pada bulan Jumadil Akhir th 654 H, mengakibatkan meluapnya sungai Dajlah sehingga airnya meluap menggenangi kota Baghdad dan sekitarnya, merobohkan rumah Wazir kota Baghdad dan rumah-rumah penduduk, sebanyak lebih kurang 330 rumah dan juga banyak menelan korban jiwa.
4. Terbakarnya Masjid Nabawi diawal bulan Ramadhan th 654 H.
5. Invasi suku Tartar ke Baghdad, satu tragedi besar dalam Dunia Islam, yaitu penyerbuan suku Mongol dibawah pimpinannya Jenghis Khan yang membuat terbunuhnya Khalifah serta pembantaian besar-besaran disertai dengan pembakaran buku-buku Ilmu Pengetahuan yang tidak ternilai harganya semuanya ini terjadi pada bulan Shofar th 654 H.
Semua kejadian diatas terjadi pada th 654 H, satu tahun setelah Sayyidina Al-Faqih wafat, berarti semua kejadian tersebut telah diramalkan oleh beliau lebih kurang setahun sebelum kejadian-kejadian tersebut diatas terjadi.



15. Keberkahan, Al-Madad, dan Al-Asrar yang diturunkan Allah SWT disisi makam Sayyidina
Al-Faqih Al-Muqaddam Ra

Banyak Qoul dari para Wali besar yang mengatakan bahwa pada makam Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam banyak diturunkan Rahmat Allah SWT dan disisi makam beliau banyak terdapat kebaikan, berapa banyak orang yang susah yang dilepaskan dari kesusahannya dan berapa banyak orang yang sakit telah sembuh dari penyakitnya dikarenakan Keberkahan dari Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ra.Mengenai keberkahan dan kemujaraban yang didapatkan dari ber-Istighatsah dan bertawassul disisi makam Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ra diceritakan ada seorang lelaki yang matanya bengkak sehingga membuatnya tidak bisa tidur dalam waktu yang lama, ia kemudian pergi kemakam Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra, selanjutnya ia berkisah:
”Ketika aku telah tiba disisi makam Sayyidina Al-Faqih kuletakkan kepalaku disisi makam beliau kemudian aku tertidur sebentar dan ketika aku bangun bengkak pada mataku telah hilang seketika itu juga”

Makam Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra

Bercerita As-Syech Ahmad bin Muhammad Abu Harmiy :
”Suatu ketika aku ingin keluar untuk berziarah ke kubur para Awliya’ di Zanbal, Tarim, yanng pertama kali kuziarahi adalah kubur para Khutaba’ , ketiaka aku akan membaca Salam kepada para Ahli kubur , tiba-tiba ada dua orang laki-laki yang memegang kedua tanganku disebelah kanan dan sebelah kiriku kemudian mereka mengangkatku diudara dan memindahkan diriku kedepan makam Sayyidina Al-Faqih Ra, kemudian mereka berkata kepadaku:”Kalau engkau hendak berziarah berilah salam terlebih dahulu kepada Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ra, kemudian setelah itu barulah engkau boleh berziarah kepada siapa yang engkau ingin ziarahi,hal ini mesti engkau dahulukan walupun kubur orang yang ingin engkau ziarahi jaraknya jauh dari makam Sayyidna Al-Faqih” kemudian aku bertanaya kepada mereka :”Siapakah anda berdua ini?” Kami adalah Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar” kemudian merekapun menghilang.
Menurut para Ahli Arifin, menerangkan bahwa barang siapa yang ingin berziarah kepekuburan “Zanbal” sebelum berziarah kepada Sayyidina Al-Faqih maka batallah ziarahnya.
Seorang Sholihin bercerita;
”Pada satu waktu aku sedang berada disatu tempat yang sangat menakutkan, akupun lalu bertawassul dan beristighatsah dengan beberapa orang Sholih yang kukenal, kemudian akupun tertidur, dan akupun bermimpi ada yang berkata;”Engkau tidur ataupun bangun tidak akan menyelamatkanmu dari kami kecuali Allah SWT, dan As-Syech Muhammad bin Ali Ra “akupun lalu mengadu kepada beliau, dan bertanya siapakah beliau ini? Lalu ada yang berkata;”Beliau adalah dimakamkan di makam ini” akupun lalu melihat dalam mimpiku makam Sayyidina Al-Faqih Ra”.

As-Syech Muhammad bin Abu Bakar Ba’ibad Ra sering berziarah kemakam Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra bilamana beliau lewat makam Sayyidina Al-Faqih Ra beliau langsung berziarah walaupun awalnya tidak bertujuan untuk berziarah misalnya hanya kebetulan lewat, keseringan berziarahnya As-syech Muhammad Ba’ibad Ra ke makam Sayyidina Al-Faqih menimbulkan kebingungan dikalangan pengikut beliau,karena beliau sendiri melarang orang untuk berziarah kubur, sehingga ada yang bertanya kepada beliau;
”Kenapa anda selalu berziarah ke makam Sayyidina Al-Faqih? Padahal anda sendiri melarang orang untuk berziarah kekuburan?”
beliau menjawab;
”Bilamana aku melihat makam Sayyidina Al-Faqih, aku tidak kuasa untuk tidak menziarahinya”
Didalam Kitab “Al-Anmuzaj Al-Latif” disebutkan bahwa telah berkata As-Syech Fadl bin Abdullah:
”Sayyidina As-Syech Al-Faqih Muhammad bin Alwi bin As-Syech Ahmad bin Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ra beliau berkata:”Tempat duduk yang paling aku cintai didunia ini adalah duduk disisi makam kakekku Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam”
Dan telah bercerita As-Syech Abdullah bin Alwi Ra:”Pada satu ketika aku berada disatu padang rumput dan aku ditimpa demam yang sangat tingi sehingga hampir-hampir membuatku hilang kesadaran dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa akupun terpikirbahwa hal ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagiakupun lalu mendatangi makam Sayyidina Al-Faqih Ra,kemudian kututup mataku dan kupanjangkan tanganku keatas makam Sayyidina Al-Faqih Ra kemudian aku bertawasshul”Aku meminta kepada Allah SWT dengan keberkahanmu agar dihilangkan-Nya demam panas yang menimpaku” kemudian aku mendengarsuara yang berkata kepadaku;”Kucukupi/
kupenuhi” lalu kutarik tanganku dan kubuka mataku,kemudian hilanglah demam dari diriku dan tidak pernah menimpaku lagi”.


16. Do’a Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra bagi keturunan beliau

Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra berdo’a untuk anak keturunan beliau dengan tiga permintaan beliau yang telah di Ijabah oleh Allah Jalla Wa’Ala, do’a Sayyidina Al-Faqih Ra untuk anak keturunannya tersebut adalah sebagai berikut :
1. Tidak dikenal oleh masyarakat umum (Mastur) dan tidaklah mereka terjun dalam kemasyarkatan kecuali dalam keadaan Faqir dan mencintai kaum fakir miskin.
2. Jangan sampai mereka dikuasai oleh penguasa yang menzhalimi mereka
3. tidak ada yang mati dalam keadaan masih berhajat kepada urusan Duniawinya, yaitu tidak mempunyai hajat Duniawi yang bisa memberikan Mudharat kepada urusan agamanya.


BARANG SIAPA YANG MEMPELAJARI NAM WALI DALAM SEJARAH ,MAKA SEAKAN AKAN IA MENGUNJUNGINYA, BARANG SIAPA YANG MENGUNJUNGI SEORANG WALI MAKA DOSA NYA AKAN DIAMPUNI DAN HATI NYA SENANTIASA HATINYA DIJAGA DALAM KEBAHAGIAAN, DAN BERKUMPUL DENGANNYA PADA HARIA KIAMAT.

2 komentar:

  1. Maaf.sebaiknya antum cantumkan redaksinya dari mana,setau saya kisah ini ada di managib sayyidina alfaqih karangan alhabib muhammad Rafiq Alkaff.

    BalasHapus
  2. Ya allah kumpulkan kami bersama orang2 shalih..amin..

    BalasHapus