Rabu, 07 Desember 2011

KEUTAMAAN-KEUTAMAAN SAYYIDINA AL-FAQIH RA

Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra mempunyai Thakhshish Maziyyah Wal Fadhail yaitu berbagai keistimewaan-keistimewaan khusus yang diberikan Allah Jalla Wa’ala kepada beliau selaku Khawas Al-Khawas “Maqam kewilayahan” yang diberikan Allah SWT kepada beliau telah menjadi satu fenomena yang menakjubkan dalam Analisa para Wali pada zamannya. Para kaum Al-Arifin berkata:
”Sungguh telah membuat tercengang dan kagum para pemuka kaum Sufi dan para Wali pada zamannya akan Ahwal-nya As-Syech Al-Faqih, dan mereka semua tidak bisa menafsirkannya dengan penafsiran yang sempurna dikarenakan melampaui pengetahuan mereka”
Diceritakan bahwa As-Syech Al-Kabir Ibrahim bin Yahya Bafadhal didorong oleh rasa penasaran beliau, berkeinginan menemui As-Syech Abu Al-Ghayst Ibnu Jamil untuk menanyakan keadaan (hal) tiga orang yang pada saat itu mulai dikenal dikalangan masyarakat Hadhramaut, yaitu Sayyidina Al-Faqih, As-Syech Abdullah bin Ibrahim Baqusyair dan satu orang lagi yang tidak diketahui namanya, As-Syech Ibrahim sengaja pergi menemui As-Syech Abu Al-Ghayst hanya untuk menanyakan perihal tiga orang ini, ketika beliau telah sampai di Majlis As-Syech Abu Al-Ghayst, beliau duduk dibelakang, As-Syech Ibrahim menceritakan sendiri pertemuan beliau dengan As-Syech Al-Wali Ibn Al-Jamil,cerita beliau;
”Ketika aku telah sampai akupun duduk dibelakang, dan tanpa kusadari aku bergumam didalam hati;
”Sungguh tidaklah aku datang dari Hadhramaut
kesini hanyalah semata-mata untuk menanyakan perihal tiga orang ini”
maka belumlah habis aku berkata didalam hati,As-Syech Abu Al-Ghayst telah mengetahui tujuan kedatanganku,
beliau berdiri dan berkata:
”Siapakah diantara yang hadir bernama As-Syech Ibrahim?”,
lalu akupun mendatanginya
dengan ketajaman Firasah dan Kekasyafan beliau, As-Syech Abu Al-Ghayst memberitahukan apa yang ingin Syech Ibrahim Bafadhal tanyakan;
”Wahai Syech Ibrahim sesungguhnya engkau mendatangiku untuk menanyakan perihal As-Syech Muhammad bin Ali bukan?, As-Syech Abdullah Baqusyair dan lelaki yang tidak dikenal namanya?
As-Syech Ibrahim menjawab:
”Benar”
As-Syech Abu Al-Ghayst meneruskan
“Aku akan menjelaskan kepadamu perihal mereka bertiga, yang pertama (yaitu Sayyidina Al-Faqih Ra), tidaklah golongan kami (para Sufi dan Wali) dapat mencapai derajat beliau walaupun hanya setengahnya, adapun As-Syech Abdullah bin Ibrahim Baqusyair adalah seorang yang Sholeh, adapun orang yang satunya lagi adalah orang yang kupandang tidak mempunyai kelakuan yang baik”
Diriwayatkan bahwa As-Syech Alwi anak Sayyidina Al-Faqih Ra bertamu kepada As-Syech Ahmad bin Al-Ja’ad Ra, As-Syech Ahmad berkata kepada As-Syech Alwi:
”Apakah engkau “Alwi” yang sering disebut-sebut orang itu?”
jawab As-Syech Alwi:
”Benar aku adalah Alwi dan semoga aku dilindungi oleh Allah SWT dari jahatntya pengaruh omongan orang”
As-Syech Ahmad bertanya lagi kepada As-Syech Alwi:
”Bagaimana pendapatmu tentang Maqam Ayahmu Sayyidina Al-Faqih Ra?”
dijawab oleh As-Syech Alwi:
”Aku telah mengetahui keagungan Maqam ayahku tapi sulit bagiku untuk menjabarkannya”
Dalam satu kesempatan seorang Wali yang utama pada zamannya yaitu As-Syech Sufyan Al-Yamani berkunjung ke Tarim untuk berziarah kepada Nabi Allah Hud As dan kaum Sholihin yang berada disana, sekaligus untuk bertemu dengan Sayyidna Al-Faqih, lalu bertemulah beliau dengan Sayyidina Al-Faqih, Sayyidina Al-Faqih dalam kesempatan tersebut bertanya banyak kepada As-Syech Sufyan, mengenai masalah-masalah Ma’nawiyah di dalam Suluk, As-Syech Sufyan menjawab setiap pertanyaan beliau.Dalam pertemuan ini telah menghasilkan Takdib, Tahzib, dan Taqrib serta Ziyadah dan Faidah bagi beliau, kemudian setelah itu pulanglah As-Syech Sufyan ke Yaman, dan meninggalkan kesan yang mendalam kepada Sayyidina Al-Faqih Ra, dan hati beliau masih dipenuhi oleh banyaknya pertanyaan yang belum sempat beliau utarakan, dari permasalahan Tauhid dan Haqeqat, beliaupun meneruskan pertanyaan beliau melalui koresponden (surat menyurat) kepada Syech Sufyan, yang akhirnya membuat As-Syech Sufyan kewalahan dan akhirnya beliau menjawab;

”Sungguh kami tidak mengetahui jawaban dari pertanyaanmu, karena sudah melampaui kemampuan kami”, dari jawaban As-Syech Sufyan tersebut sudah jelas diketahui bahwa memang Maqam serta Ahwal-nya Sayyidina Al-Faqih Ra diakui oleh para Wali di zaman itu sudah melampaui mereka. Surat-surat Sayyidina Al-Faqih Ra masih disimpan sampai sekarang, selain surat menyurat kepada As-Syech Sufyan, Sayyidina Al-Faqih Ra juga berkirim surat kepada As-Syech Taj Al-Arifin Wama’din As-Shodiqin Sa’ad bin Ali Az-Zhofary (wafat di kota Syihr tahun 607 H). Surat Sayyidina Al-Faqih kepada As-Syech Sa’ad Az-Zhofary terdiri dari dua risalah yang terkumpul padanya rahasia ilmu-ilmu Kasyaf Ar-Robbany dan mengandung rahasia-rahasia Ma’nawy yang pelik dan tersembunyi,.Dengan beliau ini Sayyidina Al-Faqih banyak menanyakan Ahwal beliau yang sangat luar biasa, terkadang bagi As-Syech Sa’ad hal yang ditanyakan oleh Sayyidina Al-Faqih sangatlah sulit untuk di terima,walaupun keluarbiasaan (Khawariq Al-Adah) tersebut benar-benar terjadi pada diri Sayyidina Al-Faqih,dan Khawariq Al-Adah adalah sesuatu yang sudah lazim terjadi dikalangan para Wali, tetapi yang terjadi pada diri Sayyidina Al-Faqih sudah melampaui batas tertinggi Ahwalnya para Wali pada zaman itu;salah satunya yang diceritakan oleh Sayyidina Al-Faqih Ra kepada As-Syech Sa’ad bin Ali Az-Zhofary adalah bahwa beliau mi’raj kelangit ke Sidrah Al-Muntaha sebanyak tujuh kali dalam satu malam sampai dua puluh lima kali.

Karena berbagai keistimewaan beliau maka tak salah kalau para pecinta beliau menggubah sebuah syair, yang mengisyaratkan kedudukan Maqam beliau :

“Beliau adalah penghulu bagi seluruh wali sesudah beliau keutamaan beliau tidak diragukan lagi sebagai Khatam Al-Awliya”.

Yang dimaksud dengan kata-kata;“Khatam Al-Awliya’” atau penutup para wali dalam syi’ir diatas bahwa beliau Sayyidina Al-Faqih Ra merupakan pemuka para Wali-wali Allah Jalla Wa’ala sebagaimana kakek beliau Baginda Rasul Allah SAW sebagai penghulu bagi seluruh Nabi dan Rasul, hal ini di-tashihkan oleh Sayyidina Al-Imam Al-Habib Abdurrahman As-Segaff dari Qoul Sayyidina Al-Faqih:

“ Aku diantara para wali, seumpama Nabi Muhammad diantara para Nabi.”

Maqam “Qutb Al-Ghauts Al-Kubra” yang disandang Sayyidina Al-Faqih dalam dunia “Kewalian” seumpama “Kaisar” dalam imperium Romawi dan “Kisra” dalam imperium Persia .

Salah satu guru Sayyidina Al-Faqih Ra yaitu Al-Imam As-Syech Ali bin Ahmad Bamarwan berkomentar;
”Sesungguhnya engkau (Sayyidina Al-Faqih) telah mencapai satu derajat Imamah (kepemimpinan para wali) yang agung”
Dan berkata Al-Imam Al-Qutb Al-Ghauts Al-Habib Abdurrahman As-Segaff;
“Al-Imam Al-Faqih Muqaddam telah mencapai derajat Qutb selama waktu yang panjang”.
Dan telah berkomentar As-Syech Al-Arif Bahrul Ulum Wal Ma’arif Umar bin Salim bin Abu Qarah Ra.;
”Sungguh aku telah mengukur dan menimbang seluruh Maqam para Awliya’ pada zamanku kecuali Maqam Sayyidina Al-Faqih Ra. Yang tidak bisa kuukur karena Maqam beliau melampaui pengetahuanku”.

Lebih lanjut Al-Imam Al-Haddad menyiratkan Maqam Sayyidina Al-Faqih Ra dalam Syi’ir beliau;

“ Awalnya Maqam beliau (Sayyidina Al-Faqih) adalah Puncak dari seluruh Maqam yang bisa dicapai oleh para Wali pada zamannya,maka pikirkanlah bagaimanakah tingginya”

Dari As-Syech Al-Kabir Al-Arif Bahr Al-Ulum Al-Ma’arif Abi Al-‘Abbas Fadl bin Abdullah bin Abi Fadl Ra,beliau berkata;
”Banyak dari manusia mereka telah banyak mendapatkan dari Sayidina Al-Faqih Ra Keberkahan dan kebaikan yang banyak, dan yang paling banyak yang telah mendapatkan Keberkahan tersebut diantaranya adalah; As-Syaikhan Al-Kabiyraan (Dua Syech yang besar), Al-Arifan billah Ta’ala As-Syahiran, As-Syech Abdullah bin Muhammad Abu Ibad dan As-Syech Sa’Id bin Umar bin Lihaf, dua Syech ini dididik oleh Sayidina Al-Faqih Ra.

Diriwayatkan bahwa pernah disebutkan di depan Sayidina Al-Faqih Ra oleh beberapa murid beliau nama dan Kisah beberapa orang Wali besar, seperti As-Syech Agil Al-Munhiy, As-Syech Ma’ruf Al-Karakhiy, As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany, serta As-Syech Hayah bin Qays Al-Harany, maka berkata Sayyidna Al-Faqih Ra;
”Tidak ada Seorangpun diantara mereka yang bisa menyamaiku”
Antara Sayyidina Al-Faqih Ra,As-Syech Abu Madyan Ra,dan As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany Ra
Menurut Al-Imam Al-Habib Muhammad bin Husin Al-Habsyi dalam Kitab beliau; “Al-‘Uqud Al-Lukluiyah” beliau mengatakan:
”Sesungguhnya kepemimpinan para Wali diserahkan dari As-Syech Abdul Qadir Al-Jailaniy kepada As-Syech Abu Madyan Syu’aib Al-Maghriby yang akhirnya Diserahkan kepada Sayyidina Al-Faqih Al-MuqaddamRa”
Sebagian para pemuka Tasawwuf berpendapat bahwa As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany adalah pemimpin para Wali Masyhur sedangkan Sulthan para Wali Mastur adalah Al-Faqih Al-Muqaddam, sedangkan perbandingan jarak derajat masyhur dan mastur tersirat dalam satu Qoul Tasawwuf.


“Sesungguhnya sudah beberapa banyak orang telah masyhur menjadi para wali hanya karena berkah dari satu wali mastur”.

Telah ditanya Al-Imam Al-Haddad Ra (ShohibAr-Ratib) oleh kalangan Ulama’ mengenai Al-Imam Al-Qutb Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali dan Al-Imam Al-Qutb Ar-Rabbany As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany yang manakah diantara mereka yang lebih utama?.Beliau berkomentar:
“Sesungguhnya mereka berdua adalah tokoh besar kaum sufi dan wali yang agung akan tetapi kami (Bani Alawi) bernisbah dan mendapatkan barokah dan Al-Madad dari penghulu kami Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali lebih besar”.

Sekali waktu As-Syech Muhammad bin Abdullah bin Abu Alwi Al-Makanniy bermujadalah dengan dengan ayahnya, mengenai maqam As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany dan maqam Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam, yang manakah diantara mereka yang lebih tinggi, As-Syech Muhammad bersikukuh mengatakan bahwa maqam Sayyidina Al-Faqih lah yang lebih tinggi dari As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany , sedangkan ayahnya mengatakan sebaliknya, akhirnya perselisihan mereka ini ditanyakan kepada Sayyidina Al-Qutb Al-Ghauts Al-Habib Abdurrahman As-Segaff, beliau berkata:
”Tidaklah kami memuliakan seorang Wali pun diatas Sayyidina Al-Faqih Ra, dan setiap maqam Wali itu berubah sesudah wafatnya kecuali maqam Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ra”

As-Syech Muhyidin Ibn Al-Araby di dalam kitabnya Al-Futuhat mengatakan:
“Syech kami; Abu Madyan di Maghrib (penjuru Barat) dan As-Syech Abdul Qadir Al-Jailany di Masyriq (penjuru Timur), di dalam memberikan wejangan-wejangan bagi para murid dari kaum Thariqoh dan membimbing makhluk ke jalan Allah”.

Dari Tarbiyah As-Syech Abu Madyan sendiri telah menghasilkan para wali dalam jumlah seribu orang. Menurut As-Syech Abdullah bin As’ad Al-Yafi’iy Ra sebagian ulama’-ulama’ Tasawwuf dari Yaman Ilmu Thariqah mereka bernisbah kepada As-Syech Al-Kabir Al-Arifbillah Abu Madyan Syu’aib Al-Maghribi, kalau Abu Madyan Al-Maghribi adalah Imam para wali dan sufi di penjuru Barat sedangkan As-Syech Abdul Qodir jaelany Imam para wali dan sufi di penjuru Timur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar