Rabu, 07 Desember 2011

Kisah Seorang Pengusaha

 بسم الله الرحمن الرحيم
Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke, sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU.Tubuhnya terbujur tak berdaya. Samar-samar dia melihat dokter yang merawatnya berbicara kepada istrinya. Dia tidak paham yang mereka bicarakan.Dokter itu menggelengkan kepalanya, kemudian istrinya terlihat sedih sambil memandangnya. Kemudian dia tak sadarkan diri.

Tepat pukul 24.00, saat orang-orang terlelap . Dia melihat sesosok bayangan terang. Sesosok itu menatapnya dingin.

" Aku adalah malaikat maut ..." katanya datar. Malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.

" Aku hanya memberi kabar padamu, Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan tetap hidup. Tapi jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia ! "

"Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang ..." kata si pengusaha ini dengan yakinnya. Setelah itu Malaikat pun pergi dan akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.

Keesokan harinya, Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya; dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, "Apakah besok pagi aku sudah pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit."

Malaikat itu menjawab, "aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 1 jam lagi, rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu."

Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si Malaikat menunjukkan layar besar mirip layar bioskop dan menunjukkan siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya.

Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra-putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka.

Kata Malaikat, "Aku beritahu, kenapa Tuhan memberikanmu kesempatan kedua ?? Itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu."

Kembali terlihat di mana si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh,

"Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar di hadapanMu. Tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah dan hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri." Dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat.

Melihat peristiwa itu, tanpa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha ini . . . timbul penyesalan bahwa selama ini dia bukanlah suami yang baik dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya, dan malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.

Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini, penyesalan yang luar biasa tapi waktunya sudah terlambat! Ternyata sampai menit terakhir belum ada lagi orang yang mendoakannya...

Dengan setengah bergumam dia bertanya, "Apakah di antara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?"

Jawab si Malaikat, "Ada beberapa yang berdoa buatmu ketika mereka menjenguk tapi mereka tidak tulus, bahkan ada yang hatinya berbisik mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini..

Itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik, bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah. Engkaupun tidak pernah peduli terhadap penderitaan orang-orang di sekitarmu"

Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia, tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam. Dan sadarlah bahwa dia memang orang yang tidak pernah peduli dan memiliki perhatian yang tulus kepada orang lain. Bagaimana mungkin orang lain tulus mendoakannya ??

Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, " Selamat. Tuhan memerintahkanku menunda kematianmu ! Kau tidak jadi meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00."

Dengan terheran-heran dan tidak percaya,si pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.

"Bukankah itu Panti Asuhan?" kata si pengusaha pelan.
>
"Benar, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri."

"Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU, setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu."

oOo

Saudaraku, Ketika kita sakit, atau meninggal dunia...
berapa banyak orang yang benar-benar peduli dan tulus mendoakan kita ?

oOo

Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?”

Rasulullah saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan.

Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan.

Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat.

Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani)

* Hadits ini dihasankan oleh Syeikh al Albani didalam kitab “at Targhib wa at Tarhib” (2623
 

Sabtu, 03 Desember 2011

Kalam Al Habib Umar bin Hafidz II

Setelah memuji kepada Allah SWT dan bershalawat kepada Rasulullah SAW beliau mengatakan bahwa di dalam majlis ini kalian telah memetik buah yang telah ditanam oleh Al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf dan beliau telah betul-betul baik dalam menanamnya, buah yang baik kita tinggal mengambilnya saja. Maka bagaimana kita lalai dan bermalas-malasan? Ini adalah barang yang berharga. Mudah-mudahan Allah SWT menjadikan bagian kita bagian yang besar. Amin.

Beberapa tahun yang lalu mereka telah menanamkan untuk kita suatu ketenangan, ketentraman, cahaya ilmu dan inilah hasil dari tanaman mereka yang penuh barokah. Apa yang ditanam oleh orang-orang yang baik akan bertahan dan sebaliknya apa yang ditanam oleh orang-orang yang batil maka akan berakhir. Segala sesuatu yang ditanam oleh orang-orang bathil selalu berupa cacian atau makian kepada orang-orang sebelum mereka. Sedangkan tanaman-tanaman orang-orang yang baik bersih dari kedengkian dan penyakit hati.


Diceritakan suatu ketika Al Habib Abu Bakar bin Syihab pergi ke Sewun dan orang-orang bertanya tentang orang-orang Tarim, maka beliau menjawab, “Mereka adalah sesuai dengan firman Allah SWT, dan Aku telah mencabut apa-apa yang ada di hati mereka daripada dendam, mereka dalam keadaan bersaudara di atas dipan yang berhadap-hadapan”.


Disebutkan bahwa di masa hidupnya Al Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi, antara dua gerbang yang ada di kota Sewun tak pernah terjadi suatu perselisihan dan pertengkaran. Diceritakan pula pernah ada satu orang ditugaskan untuk menjadi Hakim di kota Syibam, setelah beberapa lama si Hakim menjabat tidak ada satupun orang yang datang untuk mengadu kepadanya, sehingga suatu ketika si hakim berkata kepada penduduk kota tersebut; “Apakah di antara kalian tidak ada yang mempunyai masalah atau perselisihan? Sekian lama aku bertugas di sini dan aku mendapatkan gaji dari tugas tersebut tetapi aku tidak pernah bekerja. Merekapun menjawab; “ Wahai Hakim, masalah kami telah terselesaikan dengan firman Allah SWT yang artinya, Barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik maka dia akan mendapatkan pahala dari Allah SWT”.


Baru kemudian setelah 14 tahun si Hakim bertugas, datanglah 2 orang yang akan mengadukan masalah mereka masing-masing, maka disambutlah oleh si hakim dengan senang hati dan disuruh duduklah mereka berdua dalam posisi duduk yang sama. Kemudian setelah itu persidangan dimulai. Salah satu dari mereka berbicara:


“Bapak Hakim, saya pernah membeli sebidang tanah. Setelah sekian lama saya menemukan harta karun di dalamnya. Maka saya berikan harta karun tersebut kepada dia. Karena saya membeli tanahnya saja tanpa isi yang dikandung tanah tersebut. Tetapi bapak hakim yang mulia, dia menolaknya !”.


Si penjual tanah pun angkat bicara;


“Bapak Hakim anda tahu mengapa saya menolak harta karun tersebut? Karena saya menjual tanah kepadanya saya sudah niat bahwa tanah berikut isinya saya jual kepada orang tersebut”.


Kemudian bapak Hakim bertanya kepada keduanya;


“Apa maksud kalian berdua datang kemari?, merekapun menjawab; “bapak Hakim kan orang alim dan kita berdua yakin bahwasanya bapak akan sanggup untuk menyalurkan harta itu. Maka kami berdua bermaksud memberikan kepada bapak Hakim.


Si Hakim menjawab; “Kalian berdua pandai ingin menyelamatkan diri kalian dari bahaya dunia dan kalian lemparkan bahaya tersebut kepada saya, tidak, saya tidak akan menerima”.


Mereka berdua balik bertanya kepada Hakim untuk mencari solusinya.


Kemudian dengan sangat bijaksana bapak Hakim memutuskan serta bertanya kepada keduanya;


“ Apakah kamu punya anak perempuan?” tanya si Hakim kepada pengadu pertama. “Iya”, jawab dia. “Apakah kamu punya anak laki-laki?”, tanya lagi si Hakim kepada orang yang kedua. “Iya”, jawab dia.


Kemudian si Hakim berkata:


“Kawinkan kedua anak tersebut dan keluarkanlah 1/5 dari harta tersebut sebagai zakat rikaz dan sisanya gunakanlah untuk nafkah mereka berdua”.


Kalau kita lihat dari cerita di atas, masalah yang diajukan kepada si Hakim itu adalah suatu masalah yang aneh dan tidak kalah aneh dengan jawaban yang diberikan. Inilah mereka orang dulu yang tiada rasa dengki dan perselisihan di antara mereka. Mereka beradab dengan adab Al-Qur’an. Maka tidaklah berlebihan kalau setiap satu di antara mereka bagaikan bulan purnama.


Disebutkan pula bahwasanya pasar di kota Syibam setiap harinya tidak pernah sepi dari empat puluh wali yang berada di dalamnya. Sehingga ada satu orang sedikit ragu, maka duduklah dia di dalam pasar sambil menghitung orang-orang yang dia yakini sebagai wali. Tidak lama kemudian lewat di depannya seseorang dan terlintas dalam hatinya bahwa orang baru saja lewat di depannya bukanlah wali. Tapi alangkah terkejutnya dia dengan ucapan orang yang lewat itu yang mengatakan kepadanya; “Masukkan aku, karena aku adalah termasuk bagian dari mereka”.


Pernah juga diceritakan ada satu orang dari Sewun ketika akan melakukan perjalanan menuju Tarim dia diamanati sesuatu oleh seseorang serta diperintahkan untuk menyerahkannya kepada siapa saja orang yang dia jumpai pertama kali.


Maka berangkatlah dia ke Tarim, sesampai di Tarim orang yang pertama kali dijumpai adalah seorang polisi. Maka dia pun bertanya dalam hatinya, tidak akan aku berikan barang ini kepada polisi ini, aku akan mencari orang yang baik dan memberikan kepadanya. Tanpa ia sangka sedikitpun polisi tadi berkata kepadanya; “Berikan barang itu kepadaku”.


Juga pernah seorang wali dari Sewun hendak pergi ke Tarim. Si wali tersebut ingin sekali mengerjakan shalat Asharnya di Tarim, sedangkan matahari sudah hampir terbenam. Maka dengan izin Allah SWT, sang wali menahan matahari tersebut supaya tidak terbenam dulu. Sesampainya di Tarim wali tersebut dihadang oleh sekelompok orang perempuan sambil berkata; “Wahai syekh lepaskan matahari tersebut, karena kami sedang melaksanakan puasa dan kami ingin segera berbuka”.


Cerita-cerita di atas menunjukkan kepada kita tentang pentingnya berbaik sangka (husnudzon) kepada semua orang yang kita jumpai. Dikatakan bahwa orang yang husnudzon adalah benar walaupun dia ternyata salah dan sebaliknya orang yang suudzon dia dihukumi salah walaupun dia benar pada hakikatnya.


Wallahu A`lam.

Kamis, 01 Desember 2011

Kisah Seorang Bapak, Anak, Dan Seekor Keledai

dulu ada seorang bapak ingin brpergian,ia mengajak anak dan seekor keledainye untuk di tunggani
ketika melewati perkumpulan,ada seorang dari perkumpulan itu brkta:liatuh anak durhaka masa bapaknye di suruh jalan anaknye naek keledai
mendengar perkataan itu,anak itu brkata:wahai ayah lebih baik ayah saja yg naik keledai aku yg jlan,
maka naiklah ayahnya kekeledai
gak lame kmudian mereka brtemu dgn sekumpulan ibu" dan berkata:bapak gak tau diri,masa anaknye di suruh jalan
berkatalah bapak ini:bagaimana kalau qte naekin berdua aje ne keledai nak
naeklah ia berdua kekeledai dan meneruskan perjalanannya
gak brape lame mereka brtemu lagi dgn para pemude yg lagi nongkrong dan berkata:liatuh org gak tau belaskasi mase keledai kecil bgitu di naekin berdua
mendengar prkataan itu,ayah itu brkata:qte gotong aje ne keledai berdua biar qte gak disalahin lgi
maka digotonglah,lagi asyik gotong mereka ketemu ma seseorang yg brkata:ente berdua dah gile mase keledai di gotong" bukannye di naekin

Masya Allah salah lagi

ksimpulannye
jgn dengerin orang kalo qte brbuat bae,slama ntu kebaean lanjutkan